Empat tahun silam (2014), atas dorongan dan dumungan mendiang Mgr. Johannes Pujasumarta, Uskup Agung Semarang dan Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KAS); kami mendapat mandat menyelenggarakan Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama (KPSLA). Kami adalah sinergi antara Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Kom HAK) KAS dengan Komisi Kepemudaan, Komisi Kateketik, Komisi Komsos, Komisi Karya Misioner dan Museum Misi serta Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi KAS. Kami bekerjasama maksimal melalui persiapan hingga pelaksanaannya. KPSLA dilaksanakan di Kompleks Museum Misi, SMA van Lith dan Lapangan Kauman Muntilan, 24-26 Oktober 2014. Kami juga didukung Umat dan Dewan Paroki St. Antonius Muntilan.

Sebagai Ketua SC saat itu, saya bersyukur, bahagia dan bangga boleh bekerjasama dengan tim dan pribadi-pribadi luar biasa hebat yang penuh semangat melayani. Mereka adalah Romo Nur Widi dan Nugroho Tri serta tim KKM, Romo Agoeng dan tim Komsos, Romo Sugiyana dan tim KomKat, Romo Budi Purwantoro dan tim KomKep, Romo Dwi Ariyanto dan tim PSE-HPS, Romo Issri Purnomo dan tim PSE Kedu, kawan-kawan tim KomHAK (Mas Awi dan Bu Lena), kawan-kawan TIPK Kedu serta semua pihak yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Mereka terlibat aktif mulai dari saat rapat persiapan awal hingga pelaksanaan dan monev sesudah pelaksaan KSPLA.

Mengapa Kongres dilaksanakan? Tahun 2014, Roadmap Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) mengajak umat Allah KAS untuk menjadikan gerakan dialog lintasagama dan ekumene sebagai salah satu fokus pastoral. Dalam rangka pengembangan iman yang mendalam dan tangguh, KAS menetapkan dua sasaran pokok. Pertama, Umat Katolik semakin memiliki pandangan yang terbuka mengenai pluralitas agama. Kedua, kita mewujudkan persaudaraan sejati lintas agama.

Berdasarkan komitmen-komitmen tersebut, KAS mewujudkannya dengan menyelenggarakan Kongres Persaudaraan Sejati di Kompleks Misi Muntilan, 24-26 Oktober 2014. Kongres Persaudaraan Sejati secara singkat digambarkan sebagai sebuah pertemuan besar antar umat lintas iman baik Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu maupun Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pertemuan itu, umat beriman melakukan refleksi, animasi, selebrasi dan aksi bersama dalam rangka membangun persaudaraan sejati.

Hadir para nara sumber utama dalam KPSLA, yakni Mgr. Johannes Pujasumarta, Abdis Martha E. Driscoll, OCSO, Buya Syafii Maarif, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, KH Abu Hapsin Umar PhD, Bikkhu Sri Pannavaro Mahathera, Elga Sarapung, I Wayan Sumerta, Ws. Indriyani Hadisumarto (LingLing) dan Mas Gunretno.

Kongres melibatkan para pengisi selebrasi seni dan budaya: (a) Sholawat Remaja Masjid Pule (Jama’ah Al-Asy’riah), (b) Tim Komsos KAS atas Pemutaran Film Yustinus Kardinal Darmayuwono, (c) Ki Santo dan Ki Sadewo yang menggelar pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk, (d) Sholawat Pemuda Ngadipuran, (e) Tarian Sufi Al Islah Tembalang – Semarang, (f) Teater Jaran Iman Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, (g) Wayang Potehi dari Surabaya, (h) Sendratari Persaudaraan Sejati Lintas Agama oleh  250 anak, remaja dan OMK, (i) Topeng Ireng SMPK St. Maria Sawangan, (j) Topeng Ireng “Mahesa Loreng” dari Paroki  Ignatius Magelang, (k) Topeng Ireng dari Dusun Kemiriombo Dukun, (l) Jathilan dari Dusun Pepe Muntilan (Kridho Anom Bhakti), (m) Reog dari Dusun Ngargotontro, Dukun, (n) Kesenian Pencak Silat SMP Terpadu Maarif, Gunung Pring, Muntilan.

Saat itu, Kongres Persaudaraan Sejati tercatat diikuti panitia dan peserta sebanyak 815 orang dengan rincian sebagai berikut. Peserta sebanyak 690 orang dan panitia 125 orang. Rincian peserta dari Kevikepan Semarang sebanyak 216 orang dari 22 paroki. Dari Kevikepan Kedu 79 orang dari 11 paroki. Dari Kevikepan DIY sebanyak 105 orang, dari 21 paroki. Dari Kevikepan Surakarta 89 orang dari 17 paroki. Ada peserta dari luar KAS sebanyak 14 orang (Jakarta, Malang, Surabaya, dan Purwokerto). Dari Komunitas Tarekat/Biara 60 orang dari 34 biara. Dari Kelompok Lintas Adama  sebanyak 48 orang. Dari Komunitas Pendidikan sebanyak 79 orang. Jumlah ini belum termasuk para omk-remaja-anak-anak yang terlibat dalam selebrasi penutupan dalam rupa Sendratari, yang melibatkan sedikitnya 250 orang.

Sementara itu, panitia terdiri dari kaum tua, muda, mahasiswa khususnya PMKRI Yogyakarta dan beberapa mahasiswa Surakarta yang terlibat dalam kepanitiaan, termasuk Para Romo Paroki Muntilan dan Banser NU dan GP Ansor Muntilan juga para Ibu yang mempersiapkan konsumsi untuk kami.

KPSLA 2014 kami warnai dengan Pra-Pelaksanaan dengan beberapa kegiatan seperti: Rapat Panitia Pleno sebanyak 8 (delapan) kali, dimulai sejak bulan April 2014 – September 2014. Di bulan Oktober 2014 diadakan 2 kali pertemuan. Kami juga adakan pertemuan tim kecil per bidang-bidang serumpun 7 (tujuh kali). Kaderisasi 90 Orang Muda Katolik dari 4 Kevikepan di Youth Center Salam pada tgl 12-13 Juli 2014, dalam rangka mempersiapkan mereka sebagai tim OC pada saat Kongres. Sosialisasi acara Kongres di 4 kevikepan dalam bulan Juli 2014 saat Kolasi dan membagikan buku Merajut Persaudaraan Sejati Lintas Iman yang diterbitkan oleh DKP. Masing-masing paroki mendapat 3 exemplar. Buku yang sama dibagikan kepada seluruh peserta Kongres dan diberikan kepada lembaga-lembaga lintas agama setiap kali ada kesempatan perjumpaan, entah secara formal ataupun personal.

Rangkaian acara KPSLA dapat digambarkan sebagai berikut. Pertama berupa animasi dan edukasi (sarasehan lintas agama) di Aula SMA Van Lith. Kedua, berupa selebrasi, pentas kebudayaan rakyat dan pentas seni lintas agama di Lapangan Kauman Muntilan. Ketiga, pameran Hari Pangan Sedunia (HPS) di Lapangan Kauman Muntilan.

Berikut rinciannya. Animasi: Para peserta Kongres diajak untuk mensyukuri tentang indahnya perbedaan. Bersamaan dengan itu, para peserta juga diajak untuk menyadari keprihatinan yang terjadi terkait dengan perbedaan misalnya adanya diskriminasi, konflik dan kekerasan. Edukasi: Para peserta bersama para narasumber dari berbagai latar belakang dan tradisi keagamaan diajak untuk merefleksikan panggilan membangun persaudaraan sejati yang dilandasi tradisi iman masing-masing. Setelah itu para peserta diajak untuk membangun niat dan komitmen bersama dalam membangun persaudaraan sejati dalam konteks hidup masing-masing (lokus dan fokus masing-masing). Selebrasi: Para peserta merayakan kegembiraan dalam perbedaan melalui Seni, drama dan tari tentang kebhinekaan. Bahwa perbedaan itu memperkaya khasanah hidup masing-masing tradisi. Semua dipanggil menjadi pelaku dan promotor persaudaraan sejati yang dipadatkan dalam “Deklarasi Muntilan, Buah-buah Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama Keuskupan Agung Semarang”. Deklarasi itu merupakan rangkuman dari hasil diskusi kelompok yang terdiri dari empat kelompok kota karisidenan dan provinsi (Semarang, Solo, Kedu dan DIY). Rumusan selengkapnya deklarasi sebagai berikut:

  1. Deklarasi Muntilan Buah-Buah Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama KAS diMuntilan, 24-26 Oktober 2014.
    Kami Peserta Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama di Muntilan sungguh  bersyukur karena kami boleh mengalami perjumpaan yang indah, pembelajaran lintas agama, sharing lintas agama dalam persaudaraan yang penuh semangat berbagi kebahagiaan dan damai.
  2. Nara narasumber meneguhkan kami bahwa persaudaraan sejati adalah mimpi dan cita-cita yang menjadi kerinduan hidup setiap orang beriman. Karena itu kami sadar bahwa beragama dan menganut kepercayaan saja belum cukup. Kami harus menjadi semakin beriman yang melampaui perbedaan dan bersatu dalam semangat kebangsaan, membangun Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
  3. Untuk membulatkan semangat kebangsaan tersebut, kami akan terus belajar memahami dan mengamalkan ajaran agama dan kepercayaan kami masing-masing dengan sebaik-baiknya, hidup yang baik secara pribadi, dalam keluarga, dalam komunitas agama dan kepercayaan masing-masing. Kami juga akan melengkapi diri dengan menggiatkan dialog, baik dialog karya, dialog ajaran, maupun dialog iman dengan saudara-saudari lintas iman agar kehidupan ini menjadi semakin genap dan lengkap.
  4. Kami akan meneruskan kabar baik ini di keluarga, lingkungan, tempat asal, tempat karya, komunitas agama dan kepercayaan kami masing-masing dan akan terus melanjutkan jejaring relasi lintas iman yang telah terbentuk dalam Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama ini.

Salam Persaudaraan Sejati!
Muntilan, 26 Oktober 2014
Atas nama Peserta Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama
Keuskupan Agung Semarang

 

Merespon tanggapan positif para peserta Kongres Persaudaraan Sejati yang merindukan agar peristiwa seperti ini diadakan lagi, maka di akhir KPSLA Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang, Pastor FX Sukendar Wignyosumarta, Pr menyerukan bahwa Kongres akan diadakan 4 tahun sekali.

Empat tahun kemudian, yakni saat ini, 2018, Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama se-KAS dilaksanakan lagi dengan sejumlah modifikasi mendasar. Pertama, nama Kongres diganti menjadi Srawung. Kedua, fokus diberikan untuk Orang Musa Lintas Agama. Ketiga, sinergi dilakukan oleh dua Komisi yakni Kom HAK KAS dan Kom Kepemudaan didukung Komisi Komsos dalam rangka sosialisasi dan publikasi. Keempat, Srawung dilaksanakan secara in door. Kelima, Srawung dilaksanakan dalam rangkaian panjang berkesinambungan meski terjadi secara sporadis di berbagai tempat.

Terminologi Srawung dipilih dalam rangka menghayati fokus pastoral 2018, “Menjadi Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif yang bekerjasama sinergi dalam masyarakat multikultural mewujudkan kesejahteraan.” Kata Srawung lebih inklusif dari pada Kongres yang bisa bermuatan politis dalam konteks pilkada 2018 dan pilpres 2019. Kata Srawung juga lebih kultural dan manusiawi personal.

Fokus Orang Muda dan Srawung dalam konteks KAS nyambung. Sepanjang tahun 2017, kami Kom HAK KAS bersinergi dengan berbagai pihak menyelenggarakan “safari Srawung” yang melibatkan orang muda dan para pelaku seni dan budaya. Kami selenggarakan “Srawung Orang Muda” di Semarang, Solo, Yogya dan Muntilan (Kedu). Orang muda menjadi subyek. Srawung 2018 juga dihubungkan dengan peristiwa AYD 2017.

Persiapan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama KAS (SPS OMLA KAS) 2018 sudah dimulai sejak Januari 2018 dengan rapat kecil pembentukan Tim Inti SC-OC di Semarang. Lalu tim SC-OC berkumpul lagi berkoordinasi di Wisma Salam pada bulan Februari. Di bulan Februari pertemuan koordinatif bahkan berlangsung selama beberapa kali.

SPS OMLA KAS 2018 akan menjadi proses yang panjang yang dilaksanakan mulai bulan Maret hingga Oktober. Dalam rentang Maret hingga Oktober tersebut, kami memberi perhatian secara khusus selama tujuh bulan antara Maret hingga September untuk mengakarkan dan mengembangkan tema “Muda, Gembira, Bersaudara dalam Keberagaman”.

Tema srawung itulah yang akan membingkai seluruh gerakan srawung persaudaraan sejati orang muda dalam pra-event srawung dalam setiap bulannya dari Maret sampai September menuju puncak event srawung di bulan Oktober; maupun post-event sesudah Oktober.

Berangkat dari tema tersebut, kami mencoba merumuskan tema per bulan menuju puncak di bulan Oktober, yang akan dikerjakan mulai bulan Maret hingga September. Dari Maret hingga September akan terdapat tujuh bulan menuju Oktober. Pada bulan Maret, kami akan mengangkat tema srawung ekologis berbasis hari air dan kepekaan terhadap kemiskinan. Pada bulan April akan direnungkan tema srawung terinspirasi dari sosok perempuan yang memperjuangkan emansipasi, yakni Raden Ajeng Kartini. Pada bulan Mei kami akan mengolah momen hari Kebangkitan Nasional untuk gumregah bangkit dan melangkah membangun persaudaraan. Di bulan Juni Pancasila dan silaturahmi akan menjadi pusat perhatian srawung. Di bulan Juli kami mengolah tema rekonsiliasi anak bangsa. Pada bulan Agustus kami mengembangkan tema melampaui sekat-sekat primordialisme sebagai anak bangsa yang merdeka. Pada bulan September akan direnungkan tema srawung orang muda milenial dalam dunia digital. Dengan demikian, proses srawung akan berlangsung dalam waktu yang panjang, minimal tujuh bulan dari Maret hingga September. Bulan Oktober akan menjadi puncak untuk mensyukuri peristiwa srawung tersebut dalam kebersamaan yang melibatkan sedikitnya seribu orang yang sudah berproses dari Maret hingga September dari berbagai daerah dan kota.

Semua tema itu akan dipotret melalui metode tiga “M” (melihat, merespon, dan melakukan) yang menggerakkan siapa pun yang terlibat dalam gerakan srawung. Tujuh tema itu akan menjadi matrik-matrik perjalanan menuju puncak syukur srawung pada bulan Oktober. Maka, tema-tema setiap bulan akan diakarkan pada peristiwa-peristiwa yang dibangun bersama di berbagai tempat, minimal di Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Magelang.

Dalam semua pembicaraan itu, satu harapan yang kami bangun adalah memberi ruang kepada dan menggerakkan orang muda untuk menjadi pribadi-pribadi dan dalam kebersamaan bersikap inklusif, inovatif dan transformati. Muaranya adalah mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.

Itulah beberapa hal yang bisa saya bagikan sebagai pengalaman berproses mempersiapan peristiwa Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda se-Keuskupan Agung Semarang. Mohon doa restu semoga rencana, persiapan dan harapan itu dapat kami laksanakan dengan baik pada saatnya, dan berbuah dalam kehidupan orang muda yang bergembira dan bersaudara dalam kegembiraan di tengah keberagaman.

Semoga dengan demikian, perubah dari Kongres menjadi Srawung juga menjadi jelas. Termasuk fokus subyek peserta yang tertuju bagi Orang Muda.***

 

Aloys Budi Purnomo Pr

 

Share This