Sebelum acara puncak Srawung, akan diadakan berbagai kegiatan di tingkat paroki dan kevikepan. Dengannya, diharapkan terjadi perjumpaan demi perjumpaan di antara kaum muda lintas iman. Orang muda yang berkumpul diharapkan nantinya bisa menjadi agen-agen dialog yang bisa menjadi penghubung di antara sekat-sekat perbedaan, terutama perbedaan agama.

Dalam kegiatan demi kegiatan di dalam rangka Pra-Srawung ini diharapkan terjalin dialog di antara kaum muda. Secara sederhana, di dalam ajaran Gereja Katolik tentang dialog dan pewartaan (Dialogue and Proclamation, 1991), dialog diartikan sebagai berbagai hubungan yang positif dan konstruktif dengan pribadi-pribadi dan jemaat dari agama lain dalam semangat mau saling memahami dan memperkaya satu sama lain (Dialogue and Proclamation, art 9). Dialog lintas iman bukan hanya sekedar kata atau pembicaraan, melainkan melibatkan hubungan antara manusia. Dialog ini bisa melibatkan individu maupun kelompok dalam berbagai jenjangnya. Sebagai contoh, di antara tetangga, teman sekolah, atau juga tempat kerja. Dialog ini bisa dilakukan baik secara formal maupun informal. Hidup yang normal berarti kita bisa saling berelasi secara bebas setiap harinya. Dalam arti ini dialog bukanlah sekedar berada di tingkat akademis saja, tetapi bagian dari hidup sehari-hari di mana orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda saling berinteraksi (Gerard Forde MA, Journey Together, A Resource for Christian-Muslim Dialogue, Cois Tine, 2013).  Dalam rangka pra-Srawung ini, ada beberapa bentuk dialog yang bisa dilakukan:

  1. Dialog kehidupan: Setiap penganut agama berjuang untuk membangun hidup bersama sebagai tetangga secara damai dan dengan saling membantu dalam mengatasi pelbagai persoalan. Hal ini terjadi misalnya di dalam usaha menggali dan memaknai kembali bentuk-bentuk kearifan lokal yang sudah hidup di tengah masyarakat: ronda bersama, saling mengunjungi saat hari raya, dan juga kebiasaan saling mengunjungi ketika sakit.
  2. Dialog karya: Setiap pemeluk agama bekerja sama untuk mengusahakan keadilan dan perdamaian. Hal ini terjadi misalnya di dalam berbagai bentuk kegiatan penanaman pohon yang diadakan oleh masyarakat yang plural dalam hal agama.
  3. Dialog pengalaman Religius: Dialog antara orang yang berakar secara mendalam dalam tradisi religius mereka dan berusaha untuk mensharingkan pengalaman religius itu untuk saling memperkaya. Dialog macam ini misalnya terjadi dalam bentuk berbagi pengalaman puasa, atau pengalaman bersyukur bisa berbagi pada sesama.
  4. Dialog teologis: Ahli bertukar pikiran untuk mengerti dengan lebih baik warisan rohani dan nilai-nilai dari tradisi mereka masing-masing. Dialog teologis pertama-tama bukan untuk mencari kebenaran teologis dari suatu agama tetapi untuk saling memperkaya. Oleh karenanya, dialog ini bertujuan untuk memahami suatu permasalahan tertentu dari sudut pandang agama yang berbeda. Hal ini mengingat bahwa agama-agama memiliki perhatian yang senada dalam bidang kemanusiaan.

Acara-acara yang diadakan dalam rangka pra-Srawung lebih menekankan pentingnya berbagi keyakinan bahwa persaudaraan adalah jalan untuk hidup di bumi Nusantara ini. Untuk itulah, acara-acara pra-srawung ini memfokuskan diri pada hal-hal di sekitar hidup harian kita. Permasalahan bersama itu bisa menjadi pintu masuk untuk berdialog sekaligus menjadi sarana untuk berpikir bersama tentang masa depan bangsa ini. Dengannya, orang tak lagi hanya berjuang untuk membela agama, tetapi menantang agama (-agama) agar bisa benar-benar menjadi berkat untuk kehidupan di masyarakat Indonesia.

Share This