Riuh rendah dan tawa lepas ditimpa  teriakan para penonton mewarnai Festival Dolanan Anak dalam rangka Srawung Orang Muda Lintas Agama  27 Oktober 2018. Seluruh  peserta larut dalam beragam permainan tradisional yang disajikan. Kegiatan itu seolah menjadi jiarah ke masa lalu , saat kita masih asik memainkan beragam dolanan anak sambil belajar menjalin kerjasama, kekompakan dan membangun kepercayaan diri. Di zaman milenial ini, begitu jarang permainan semacam itu kita temukan.  Festival Dolanan menjadi upaya efektif untuk kembali mengingatkan orang muda bahwa kita memiliki kekayaan tradisi dolanan yang sarat makna.

Perasaan senang tampak terpancar di setiap peserta festival dolanan.

“Saya senang bisa main engklek lagi. Jadi ingat  saat main dengan teman SD di kampung”  kata Mita, pelajar SMA kelahiran Surakarta. Sementara Vincent dari Boyolali, mengaku memetik manfaat pelajaran dari permainan egrang yang dipilihnya. Ia menceritakan betapa susahnya bermain egrang sampai jatuh berkali-kali. Namun,  kegagalan tersebut tidak memupuskan semangatnya untuk terus mencoba, hingga berhasil. “Keseimbangan dan konsentrasi menjadi fokus utama untuk berhasil” katanya.

Dalam festival tersebut, peserta difasilitasi untuk memainkan dolanan lain seperti engklek, egrang batok dan gasing. “Permainan itu sengaja dipilih sebagai sarana menjalin keakraban” kata Budi , selaku koordinator panitia. Lebih lanjut ia mengungkap berbagai filosofi yang termuat dalam permainan yang dipilih. Egrang bambu misalnya, kunci utama permainan ini terletak pada  keseimbangan. Bayangkan jika pemain tidak bisa menyeimbangkan diri, pasti  terjatuh dan terluka. Begitu juga dalam kehidupan, hilangnya keseimbangan dalam diri dapat menggangu sendi-sendi kehidupan pribadi dan masyarakat. “Oleh sebab itu, generasi muda perlu melestarikan budaya leluhur yang penuh sarat makna ini agar tidak punah dan tinggal sejarah”, pungkasnya.

Share This