Pada 14-15 Juli 2018, sekitar 40 anak muda lintas iman mengikuti acara Gugur Gunung Sedulur Gunung di Wulenpari, Jelok. Acara tersebut diselenggarakan oleh OMK Rayon Gunungkidul bekerja sama dengan Forum Lintas Iman dan Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul. Keempat puluh enam anak muda berusia kisaran 17-22 tahun itu memiliki latar belakang agama yang berbeda. Selama dua hari, para peserta ini “dikarantina” di Pondok Wulenpari di pinggir Sungai Oya. Di sana, mereka mengikuti kegiatan diskusi, sharing, dan outbound.

Semangat bahwa para pemuda ini yang akan menjadi garda depan dalam menjaga keberlangsungan perdamaian dan kerukunan bangsa Indonesia sekian tahun ke depan yang melatarbelakangi OMK Rayon Gunungkidul menamakan kegiatan ini Gugur Gunung Sedulur Gunung. Gugur gunung lebih mengacu kepada arti yang lebih aktif, yaitu bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan, dalam hal ini persatuan dan perdamaian bangsa Indonesia.

Pada diskusi bertema “Toleransi dalam Keberagaman” menghadirkan para tokoh lintas iman di Gunungkidul, seperti Pendeta Dwi Wahyu Prasetyo, S.Si dari GKJ Wonosari, Gus Lutfi dari Banser NU Gunungkidul, Bapak Kardi Widianto dari PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Gunungkidul, Bhante Badra Sugato, serta Romo Sapto Nugroho, Pr.

Para pembicara tersebut aktif di forum-forum lintas iman khususnya di Gunungkidul.Romo Sapto mengutarakan bahwa forum lintas iman tersebut kumpulan orang-orang yang mau hidup bersaudara dan menyuarakan persaudaraan. “Kami nggak pernah rapat, adanya minum kopi bersama. Dari sana muncul kegiatan-kegiatan bersama, seperti peringatan hari lahir Pancasila, juga saat ada bencana banjir. Gereja kami buka untuk memberi dan menyediakan bantuan.”

Berkaitan dengan pertanyaan bagaimana bertoleransi dalam keberagaman  yang diajukan peserta, Romo Sapto menjelaskan bahwa toleransi terjadi saat kita menganggap orang lain juga sebagai sesama manusia yang setara. “Toleransi dimulai sejak dalam pikiran. Nguwongke wong liya.”

Bhante Badra Sugato menambahkan, “Sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara, meskipun kita berbeda. Keragaman itulah yang menjadi kekuatan.”

Di akhir diskusi dilakukan pembacaan doa lintas iman. Para anak muda ini berdoa untuk keutuhan, perdamaian, dan persatuan bangsa Indonesia.

Awalnya para peserta ini hanya sejumlah pemuda-pemudi yang datang sebagai utusan perwakilan dari organisasi, komunitas. Mereka tidak banyak saling mengenal, palingan hanya tahu teman sesama organisasi. Beragam kegiatan seperti outbound dan sharing membuat mereka saling mengenal lebih baik dan lebih dalam. Toleransi dalam keberagaman itu ada dan hidup di antara para peserta. Mereka melakoninya. Natalia, salah satu peserta, awalnya skeptis dengan acara ini yang menghadirkan anak muda dari berbagai agama dan latar belakang untuk saling berkumpul dan bekerja sama. “Soalnya melihat kondisi Indonesia sekarang ini yang terlihat tersekat-sekat. Ternyata setelah mengikuti acara ini aku sangat senang. Bisa saling kenal, tahu. Apalagi saat semalam ada diskusi yang menghadirkan pemuka agama. Mereka menjelaskan tentang agama yang mereka anut.”

Senada dengan Natalia, Sri Rejeki, pemuda yang baru naik kelas 12 SMK ini merasa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru seputar menghidupi toleransi. “Saya ingin mengajak teman-teman di asrama untuk ikut kegiatan seperti ini.” Dia menjelaskan itu salah satu cara dia berkontribusi merawat perdamaian dan persaudaraan.

Persaudaraan dan pertemanan antar anak muda lintas iman tak hanya berhenti pada akhir acara Gugur Gunung Saudara Gunung yang digagas oleh OMK Rayon Gunungkidul. Justru acara tersebut adalah awal bagi embrio gerakan anak muda lintas iman di Gunungkidul tersebut. Keempat puluh enam anak muda ini sepakat untuk menggagas, mengadakan, bekerja sama berbagai acara dan kegiatan bersama yang bertujuan untuk merekatkan persaudaraan dan mempromosikan perdamaian. #Misni Parjiati

Share This