Orang muda lintas iman di Kevikepan Kedu bersama Komunitas Pager Piring melakukan kunjungan ke tempat ibadah umat Hindu dan Buddha, Minggu (24/6/2018). Kegiatan ini merupakan pre-event Srawung Persaudaraan Sejati Lintas Iman di Kevikepan Kedu (Kedu Bersaudara).

Kunjungan ini sekaligus sebagai proses pembelajaran dan mengetahui tentang agama-agama yang ada di Indonesia. Minggu pagi, orang muda lintas iman bersama rekan-rekan komunitas Pager Piring mengunjungi Pura Wira Buwana, Komplek Akademi Militer (Akmil) Magelang. Pada kesempatan ini, peserta Srawung Persaudaraan Sejati Lintas Iman disambut oleh pengurus di Pura Wira Buwana.

“Dikenalkan singkat tentang bagian-bagian Pura,” kata Theresia Niken, peserta Srawung, Minggu (24/6/18).

Bangunan Pura sendiri terbuat terbuka dan terdiri dari beberapa bagian atau lingkungan yang dikelilingi oleh pagar tembok. Masing-masing lingkungan itu dihubungkan gapura dengan ukiran-ukiran indah. Lingkungan Pura terdiri dari beberapa bangunan yang memiliki fungsi berbeda-beda, ada gapura pintu masuk utama, bale atau pendopo, dan Pelinggih Meru (tempat bersemayam Hyang Widi).

Para peserta Srawung Kedu Bersaudara pun berdialog di pendopo. Para peserta diajak berkeliling dan ditunjukkan bagian-bagian dari Pura. Selain itu, mereka juga mendapat informasi tentang filosofi dari masing-masing bagian pura. Stuktur tempat ibadah umat Hindu ini mengikuti konsep Trimandala yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya. Zona terluar dari lingkungan Pura adalah Nista Mandala (Jaba pisan), yakni taman, lapangan. Bagian kedua, Madya Mandala (Jaba tengah). Di sinilah tempat aktivitas umat Hindu maupun pengunjung yang terdiri dari berbagai fasilitas pendukung seperti pendopo.

“Rupanya, setiap bagian ada filosofinya dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Utama Mandala merupakan zona yang paling dalam dan tempat paling suci dari Pura,” lanjutnya.

Demi menjaga dan menghormati kesucian Pura, hanya umat Hindu yang akan bersembahyang saja yang diperbolehkan memasuki ruang utama pemujaan.

“Ketika akan bersembayang, masuk ke Utama Mandala harus menggunakan selendang berwarna kuning. Selendang itu menyimbolkan penghormatan terhadap Pura yang disebut tempat suci,” jelas perempuan yang akrab disapa Niken itu.

Pura bukan hanya tempat ibadah tetapi juga tempat suci. Sebelum para peserta masuk ke dalam lingkungan pura, pengurus pun menanyakan tentang keadaan pengunjung. Sebagai informasi pengunjung bahkan umat dilarang masuk ke Pura saat tengah berduka. Boleh masuk kalau sudah lebih dari 10 hari setelah ada anggota keluarga meninggal dunia. Sedangkan, bagi perempuan yang sedang datang bulan juga dilarang masuk ke lingkungan Pura. Salah satu pengurus Pura menyatakan kurang baik karena bisa mendatangkan risiko yang kita tidak tahu. Selain itu juga diperingatkan agar tidak menginjak dan melompati sesaji. Peserta Srawung Kedu Bersaudara mengakhiri kegiatan kunjungan itu dengan sesi tanya jawab dan berfoto bersama.

 

#Aloysia Mita

Share This