Ketika saya menuliskan catatan ini, saya berada di Surabaya pada hari pasca pengeboman di tiga Gereja di Surabaya dan di Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo, atau tepat pada hari peledakan bom di Mapolrestabes Surabaya. Peristiwa yang membawa duka bagi Indoensia dan dunia itu terjadi pada tanggal 13 Mei 2018 di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, Gereja kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro dan di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno dan disusul peristiwa di Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo. Setelah sehari sebelumnya saya berada di Yogyakarta dan mendengar dari jauh peristiwa yang ada di Surabaya, hari ini saya berada sangat dekat dengan tempat-tempat kejadian perkara. Semalam saya berada bersama dengan ratusan teman-teman di sekitaran Tugu Yogyakarta, sementara hari ini saya bersama dengan puluhan relawan dan polisi yang berjaga di sebuah Gereja di Surabaya. Bahkan di sini akan diadakan posko bersama di beberapa tempat yang digawangi oleh tokoh-tokoh PWNU dan tokoh-tokoh Gereja.

Lepas dari betapa ngerinya aksi terror yang berlangsung hampir dalam 24 jam dan membawa korban meninggal 18 orang putra-putri ibu pertiwi, peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa bangsa ini sungguh masih bersaudara dan akan tetap bersaudara. Peristiwa yang terjadi di Surabaya membawa tangis dan gerakan bersama di berbagai kota untuk membawa pesan damai tentang persaudaraan. Kita bukanlah sebuah bangsa yang terpisah, melainkan bangsa yang masih terus terhubung satu dengan yang lain. Terngiang sajak Sutardji Calsoum Bachri yang didengungkan seorang kawan di sekitaran Tugu Yogyakarta:

daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku

Puisi ini seakan mengatakan bahwa kita ada dalam satu kesatuan dan tidak terpisah satu dengan yang lain. Puisi itu seakan ingin menyatakan bahwa ini bukan tentang satu daerah saja yang terluka, melainkan tentang kebangsaan yang dilukai, tentang sebuah negeri yang dicabik dengan ngeri di salah satu bagian tubuhnya.

Peristiwa di Surabaya dan respon berbagai kalangan di berbagai pelosok negeri menyadarkan kita bahwa persaudaraan bukan lagi hal yang kita terima secara gratis. Persaudaraan dan jaring-jaring penyatu harus terus diupayakan agar orang tidak pernah berpikir bahwa ada yang layak untuk dikorbankan untuk mendapatkan kebahagiaan segelintir orang. Peristiwa di Surabaya mengajak kita untuk terus mengupayakan srawung karena damai negeri ini tidak pernah akan terjadi kalau tidak ada usaha bersama membangun persaudaraan dan bahwa persaudaraan bukanlah usaha segelintir orang melainkan usaha banyak pihak. Doa-doa bersama di berbagai penjuru bumi mempertemukan orang dari berbagai agama, orang yang berbeda dalam pemikiran politik, masyarakat sipil dengan aparat keamanan. Sesuatu yang terkadang diabaikan karena kesibukan hidup pribadi, hari-hari ini diupayakan.

Kita berduka dan berdoa untuk kerusuhan yang terjadi di Surabaya. Duka ini tidak boleh menjadi panggilan yang menakut-nakuti kita, melainkan perlu untuk menjadi panggilan untuk terus bersaudara dan mengupayakan kesatuan di berbagai lini kehidupan.

Selamat datang di negeri ini yang meski dicabik berkali-kali berhasil untuk bangkit dan menjaga damainya. Di tempat lain, satu kerusuhan sudah membuat sebuah bangsa terkoyak-koyak. Bangsa ini meyakini semangat yang dulu dipekikkan oleh para pejuang kemerdekaan, “Mati Satu Tumbuh Seribu”. Kita tidak membiarkan kebencian mematikan persaudaraan, melainkan sebuah cambukan untuk semakin bergandengan tangan dan bahu membahu membawa damai untuk semua.

Mari pekikkan srawung persaudaraan lintas iman agar sekat-sekat agama yang memang ada tidak pernah lagi bisa menjadi alasan untuk lahirnya kekerasan.

 

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Surabaya, 14 Mei 2018

Share This