Pada beberapa dekade terakhir, kita menyadari bahwa warisan persaudaraan di Indonesia kian meluntur. Salah satu alasan untuk terbentuknya celah-celah persaudaraan tersebut adalah agama. Atas nama perbedaan agama, orang menjauh dari saudara-saudarinya. Padahal Indonesia menyadari bahwa perbedaan agama adalah salah satu kekayaan bangsa ini dengan tetap meyakini bahwa perbedaan itu bukan untuk memisahkan karena Indonesia berpedoman pada semangat Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Di awal tahun 2018, peristiwa demi peristiwa terjadi mengusik kebebasan beragama di Indonesia:

  1. Sabtu (13/1/2018) malam, seorang pria menggunakan sepeda motor menerobos masuk ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Jalan Yos Sudarso, Kediri, Jawa Timur. Tempat ibadah bagi etnis Tionghoa ini dilempari batu sekitar pukul 21.30 WIB. Lemparan pelaku mengenai jendela dari bahan kaca.
  2. Serangan kepada Pengasuh Pondok Pesantren al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1/2018).
  3. Sejumlah massa mengatasnamakan diri mereka Front Jihad Islam (FJI) dan beberapa ormas lainnya, membubarkan secara paksa acara bakti sosial yang digelar Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan, Bantul, Yogyakarta, Minggu (28/1) lalu.
  4. Sebuah video yang menampilkan seorang biksu dan umatnya dilarang beribadah di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang, viral di media sosial. Peristiwa terjadi pada Rabu (7/2/2018) lalu, berawal dari adanya penolakan warga atas rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat.
  5. Pada Minggu (11/2/2013) ini, Pastor dan jemaat Gereja Santa LidwinaBedog diserang oleh seorang yang membawa pedang. Beberapa umat menjadi korban, demikian juga Romo Prier yang memimpin ibadah pun terluka.

 

Situasi ini menggugah kesadaran kita bahwa pada masa ini persaudaraan bukanlah hal yang kita terima secara gratis. Sebagai pewaris negeri ini, kita perlu memperjuangkan persaudaraan, salah satunya dalam konteks persaudaraan Lintas Iman. Selain peristiwa-peristiwa di atas, suasana persaudaraan perlu diusahakan sebagai usaha memberi warna lain dari politik SARA yang sering digunakan pada tahun politik dan cenderung memecah belah bangsa ini.

Dalam rangka turut serta menjaga persaudaraan itu, Keuskupan Agung Semarang melalui Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan dan Komisi Kepemudaan akan mengadakan acara Srawung Persaudaraan Sejati Kaum Muda Lintas Iman. Puncak acara akan diadakan pada 26- 28 Oktober 2018 di Semarang. Acara ini adalah kelanjutan dari usaha Gereja Keuskupan Agung Semarang untuk membangun persaudaraan sejati di antara umat beriman. Sebelumnya, empat tahun yang lalu, tepatnya 24-26 Oktober 2014 diadakan Konggres Persaudaraan Sejati Lintas Iman di Muntilan. Kali ini, nama kegiatan diganti dengan kata Srawung mengingat kata konggres menjadi sensitif di era tahun politik ini. Secara khusus, kegiatan kali ini memberi tempat kepada kaum muda untuk bersama-sama membangun persaudaraan. Merekalah harapan masa depan yang sangat mungkin ikut menjaga persaudaraan sejati di tahun-tahun mendatang.

 

#Tim Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Iman

Share This