Dewasa ini berita tentang radikalisme, intoleransi, dan perpecahan kerap kita temui di berbagai media. Kita sebagai bagian dari masyarakat juga tak jarang mengalami sendiri disrupsi yang terjadi. Perbedaan kepercayaan menjadi isu yang sensitif dalam masyarakat. Berangkat dari keprihatinan akan permasalahan tersebut, OMK (Orang Muda Katolik) Rayon Sleman menginisiasi sebuah kegiatan bertajuk Srawung Kekinian “Rukun Agawe Santosa”. Kegiatan ini merupakan pra-acara dari Srawung Persaudaraan Sejati yang akan diadakan di Semarang pada Oktober 2018. Acara Srawung memang memfokuskan diri pada perwujudan masyarakat yang toleran dan inklusif, terutama pada anak muda yang akan menjadi penerus bangsa.

Rangkaian pertama Srawung Kekinian berupa kunjungan ke Vihara Karangdjati dan Forum Jogja Damai pada Sabtu (24/6) lalu. Acara diikuti oleh kaum muda lintas iman dari berbagai latar belakang komunitas dan organisasi. Melalui diskusi dan tanya-jawab, para orang muda tersebut memperdalam pengetahuan keimanan mereka.

Vihara Karangdjati berada di Jalan Monjali, Sleman. Diskusi diawali dengan pemaparan materi tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama Buddha oleh Romo Totok dan Romo Ian. Kedua pembicara merupakan pandita. Pengenalan agama Buddha terhadap kaum muda lintas iman tersebut memancing diskusi dan tanya-jawab pada sesi berikutnya. Rupanya ada banyak pengetahuan baru yang membuat para peserta semakin memahami saudara-saudari yang beragama Buddha.

“Apakah ada dewa-dewi dalam agama Buddha?” tanya Katrin, salah satu peserta.

“Dewa-dewi adalah manusia yang berbuat baik dan menjadi penghuni surga. Buddha tidak disembah sebagai Tuhan, demikian juga dewa-dewi,” jelas Romo Totok, “Hukum alam semesta membuat kita harus melibatkan diri. Hukum inilah yang dipatuhi dan dianut sebagai cara hidup. Kita sendiri harus menjadi bagian dari perputaran itu dengan berbuat baik.”

“Bagaimana mencapai kebahagiaan sementara manusia tidak mungkin lepas dari hasrat?” tanya Yuan, peserta lain.

“Kalau pun hasrat itu tidak tercapai, yang penting adalah bagaimana kita menerima hal itu apa adanya. Ketidakmampuan mencapai kebahagiaan dapat menyebabkan penderitaan, atau disebut sebagai samsara. Penerimaan berarti berdamai dengan situasi yang ada,” jawab Romo Ian.

Melanjutkan acara, para peserta berpindah tempat ke Republik Guyub yang terletak di Pringwulung, Sleman. Republik Guyub merupakan basecamp Forum Jogja Damai (FJD). Koh Andi, salah satu inisiator FJD, memiliki mimpi besar terhadap persatuan bangsa Indonesia. Ia memandang kemampuan bertoleransi harus ditanamkan sejak dini, dimulai dari usia remaja. Maka dari itu, FJD menyasar berbagai komunitas yang melibatkan orang muda. FJD mewadahi berbagai komunitas tersebut untuk bersinergi dengan tujuan utama mengangkat toleransi dan persatuan. Mas Helmi dan Mbak Riska, penggerak FJD yang lain, memiliki pendekatan yang berbeda. Mereka menggunakan musik dan seni untuk menarik perhatian anak muda dengan isu-isu yang mereka angkat.

“Apakah FJD punya visi misi khusus?” tanya Ipin.

“Secara formal tidak ada visi misi maupun susunan pengurus, hanya beberapa penggerak yang aktif. Penggerak tersebut dari berbagai macam komunitas lintas iman dan berbagai agama,” kata Koh Andi, “Kita mulai dengan sharing mengenai gerakan dan tujuannya ke berbagai tempat atau komunitas. Lalu dari situ, kita mulai buat kegiatan bersama.”

Salah satu peserta diskusi berujar ini pertama kalinya ia mengikuti acara lintas iman. “Awalnya canggung ikut acara seperti ini, karena dulu saya berasal dari lingkungan yang sangat Muslim. Ketika kuliah, saya mulai bertemu dengan orang yang beragam. Dari situ saya menyadari bahwa kita memang perlu bertemu dengan orang yang berbeda latar belakang agar dapat lebih memahami,” kata Puput.

“Orang yang punya wawasan agama yang beragam punya kemampuan bertoleransi yang lebih kuat,” Mas Helmi menanggapi.

Acara kunjungan ditutup dengan ramah-tamah dan berfoto bersama. Melalui acara lintas iman semacam ini, diharapkan orang-orang muda yang terlibat di dalamnya menjadi pelopor toleransi dan inklusivitas di masyarakat yang kian akrab dengan teknologi.

“Forum seperti ini bisa menjadi awal bagi kita menciptakan sesuatu yang nyata,” tutup Koh Andi.

 

(Brigitta Winasis)

Share This