Sebanyak 168 orang muda lintas iman yang berdomisili di Yogyakarta berkumpul di Rungan Khrisna hotel UTC Semarang untuk membahas Rencana Tindak Lanjut setelah tiga hari (26-28/10) mengikuti acara Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda 2018.  Sesi dibuka oleh Romo Joko Lelono yang memantik diskusi dengan pertanyaan tindakan konkret apa yang bisa dilakukan untuk mengabarkan berita baik tentang Yogjakarta. Ternyata para orang muda menggagas masalah label Jogja sebagai kota yang intoleran dengan sangat kritis. Mereka kemudian dengan antusias membentuk kelompok kecil dan  berdiskusi bersama. Meski terbatas oleh waktu, nyatanya para orang muda mampu mengemukakan bermacam ide yang menarik untuk menyebarkan berita baik mengenai Jogja. Beberapa gagasan yang muncul: tindakan yang sangat konkret dan mudah dilakukan oleh setiap orang seperti menggunakan media sosial secara positif dan berkumpul, berdialog, dan berkoneksi dengan komunias lain sehinga saling mengenal dan membuka pikiran masing-masing supaya tidak terkungkung dalam satu pola pikir saja.

Untuk melaksanakan rencana-rencana tersebut, para orang muda juga menentukan unit-unit pengkategorian dalam berkoordinasi. Koordinator untuk siswa SMA adalah Ana. Unit mahasiswa akan dikoordinatori oleh Maskun, sedangkan untuk orang muda yang sudah bekerja akan dikoordinatori oleh Ghulom.

Selain rencana-rencana komunitas, para orang muda rupanya memiliki banyak ide lain yang menarik untuk mendukung gerakaan persaudaraan yang digaungkan dalam Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda 2018. Ide-ide seru mereka untuk menyebarkan persatuan dalam keberagaman ala anak muda antara lain membuat merchandise dengan pesan-pesan positif, membuat film pendek dengan  konten merawat keberagaman, mengadakan pertandingan olahraga lintas iman dan membuat capacity building yang mengajak peserta untuk lebih memahami nilai-nilai pluralitas dengan berkunjung ke tempat-tempat ibadah berbagai agama di Jogja secara reguler. Ada pula yang mengusulkan untuk membuat tim pemateri sosial media untuk membuat konten mengenai keberagaman yang kemudian dapat dengan mudah dishare dan diviralkan oleh komunitas-komunitas. Ide lain juga muncul dari keprihatinan atas mahasiswa baru yang belum mengerti kondisi dan situasi Jogja untuk kemudian dijaring ke dalam komunitas lintas agama dan dibimbing dengan kasih sehingga semakin “tervirus” oleh nilai-nilai persaudaraan. Orang muda lain juga mengemukakan ide untuk membuat warung yang berfungsi sebagai tempat “nongkrong” atau basecamp untuk melakukan hal-hal positif dan mengkampanyekan gerakan Srawung.

Untuk menutup sesi diskusi ini, Romo Joko kemudian meminta beberapa peserta membagikan pesan yang mereka dapatkan selama mengikuti acara Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda 2018. “Acara ini memberikan sebuah penemuan baru terhadap iman kita masing-masing. Di sini kita menemukan iman yang mantap, ilmu yang lengkap, dan wawasan yang luas,” ujar Afkar, salah satu peserta. Senada dengan Afkar, Monica Aurelia juga mengatakan acara Srawung ini memberikan manfaat yang baik untuknya. “Saya belajar tentang cinta kasih terhadap sesama dan juga kasih sayang. Kita harus bersatu untuk menyebarkan cinta kasih terhadap sesama. Kaum muda harus mampu memfilter karena jarimu adalah harimaumu,” imbuh Monica.

Share This