Pada akhir zaman, bagaimana kita akan diadili?
Dante, seorang penyair abad pertengahan mengatakan:
“Kita dinilai berdasarkan kemampuan kita untuk mencintai.”

Pendapat ini serupa dengan keyakinan Ibu Teresa dari Kalkuta. Dia mencuplik perikop Matius 25:31-46, “Pada saat akhir hidup kita, kita tidak akan dihakimi berdasarkan seberapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa banyak uang yang telah kita kumpulkan, atau seberapa banyak perkara besar yang telah kita lakukan. Kita justru akan dihakimi dengan alasan: “Ketika Aku lapar, kamu memberi aku makanan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Inilah ajaran Yesus yang sungguh dipegangnya.

Dengan kata lain, “Yang kaulakukan terhadap salah seorang yang terkecil  di antara saudara-Ku, kaulakukan terhadap Aku”. Itu pun sungguh  dihidupi oleh Ibu Teresa.

Ketika semua orang berlomba-lomba bahkan cenderung menghalalkan segala cara untuk membahagiakan diri dengan materi dan harta kekayaan yang berlimpah, Bunda Teresa memilih untuk pergi kepemukiman orang-orang miskin dan dina terpinggirkan, untuk hidup berdampingan dengan orang-orang miskin. “Kami tidak pernah mendapatkan uang sepeserpun dari apa yang kami lakukan, kami hanya melakukan semua ini untuk Tuhan,” ungkapnya. Ia memandang orang miskin dan hina dina itu adalah Yesus yang menyamar.

Inilah belas kasih, yaitu perasaan yang menyembul dari inti terdalam seseorang  ketika melihat kebutuhan seseorang. Belas kasih ini tergambar jelas dalam kisah orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:29-37). Perumpamaan mengenai orang Samaria yang baik merupakan jawaban terhadap pertayaan: “Siapakah sesamaku?” Jawabannya bukan setiap orang atau semua orang, meskipun jawaban itu juga tidak salah. Jawabannya adalah suatu perumpamaan yang dikisahkan sedemikian rupa sehingga kita digiring untuk mengidentifikasikan diri kita secara emosional dengan seseorang yang sedang mengalami musibah dirampok. Kita merasakan kekecewaannya, ketika orang-orang yang seharusnya hidup dalam solidaritas dengan dia (seorang imam dan lewi), berjalan terus di seberang jalan. Kita ikut gembira ketika seorang Samaria (seorang musuh) tergerak hatinya oleh belas kasihan dan meruntuhkan tembok-tembok pemisah solidaritas kelompok untuk menolong dia yang membutuhkan.

Sejalan dengan ajaran Yesus, Paus Fransiskus menyerukan agar kepedulian dan belas kasih tetap terus dihidupi di dalam keseharian meski arus zaman bertubi-tubi menggempurnya. Paus melihat bahwa karena kenyamanan zaman ini, orang dibawa kepada globalisasi ketidakpedulian, lawan dari belas kasih.

“Kita telah jatuh dalam ketidakpedulian global. Kita terbiasa untuk tidak peduli pada penderitaan orang lain. Derita itu tidak menimpa aku, bukan urusanku….Kita adalah masyarakat yang telah lupa bagaimana menangis, bagaimana berbela rasa, menderita bersama orang lain. Globalisasi ketidakpeduliaan telah mencabut kita dari kemampuan untuk menangis.”

Ibu Teresa pun melihat hal yang sama. Ia melihat bahwa kemiskinan yang paling besar adalah kesepian, diabaikan dan perasaan tidak dicintai.

“Penyakit yang paling ganas saat ini bukanlah lepra atau TBC, namun perasaan merasa tidak diinginkan. Ada kelaparan untuk cinta dan penghargaan yang lebih besar di dunia daripada kelaparan akan makanan. Kita sering berpikir bahwa kemiskinan hanya terkait dengan kelaparan, tanpa pakaian, dan tanpa rumah. Kemiskinan berupa tidak diinginkan, tidak dicintai dan diabaikan adalah kemiskinan yang paling besar.”

Lebih lanjut, Ibu Teresa menyadarkan kita kembali untuk memulai kepedulian itu di dalam keluarga. Keluarga adalah unit kecil, Gereja mini, tempat pertama dimulainya sebuah perjalanan hidup.

“Saya pikir saat sekarang dunia dalam keadaan kacau balau, dan mengalami penderitaan yang besar karena sedikit sekali ada kasih di rumah, dan dalam kehidupan keluarga. Kita tidak mempunyai waktu untuk anak-anak kita, kita tidak mempunyai waktu untuk yang lainnya, tidak ada waktu untuk mengasihi yang lainnya. Kasih dimulai dari rumah; kasih bersemi di rumah, dan itulah sebabnya mengapa ada begitu besar penderitaan dan ketidakbahagiaan yang terjadi di dunia saat ini. Setiap orang kelihatan begitu tergesa-gesa, gelisah untuk mendapatkan segala sesuatunya lebih besar dan lebih besar lagi baik itu kekayaan dsb, sehingga anak-anak mempunyai sedikit waktu dengan orang tua mereka. Orang tua mempunyai sedikit waktu satu dengan yang lainnya, dan di rumah tempat pertama dimulainya kekacauan dari kedamaian di dunia.”

 

Senada dengan hal  di atas, Dorothy Law Nolte memberikan ungkapan yang sangat bagus dan menyentuh hati:

Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan
Ia belajar menyesal diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakukan
Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Harapannya, jika generasi sekarang ini sungguh dibesarkan dengan kasih dan persahabatan, mereka akan mudah berbelas kasih,  memberikan hati untuk mencintai, mengulurkan tangan untuk melayani siapapun, tanpa pandang bulu.

 

Heribertus Budi Purwantoro, pr

Share This