“Segala sesuatu kalau kita ada kemauan, kalau kita berani mencoba pasti Tuhan kasih jalan terbaik untuk setiap pribadi/orang,” kata Eko Sugeng, penyandang disabilitas.

Kehilangan kedua tangan, bukan berarti kehilangan semangat hidup. Kecelakaan yang menyebabkan tangannya cacat pun justru mengantarkannya sebagai barista di sebuah kafe. Putus cinta saja rasanya sakit, bagaimana dengan kehilangan kedua tangan. Bagi orang normal, tangan punya peran penting untuk melakukan segala aktivitas. Mulai dari menulis, mencuci, menyapu, menyetir kendaraan. Tangan jadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Nahas, Eko Sugeng harus kehilangan kedua tangannya dalam sebuah kecelakaan.

“Kecelakaan listrik, sehingga tangan saya harus diamputasi,” katanya saat diwawancara.

Sayangnya, Eko, sapaan akrabnya, enggan menceritakan lebih rinci bagaimana peristiwa itu membuat kedua tangannya harus diamputasi. Ia menuturkan peristiwa itu terjadi pada tahun 2002 saat membantu pamannya. Akibat peristiwa itu, Eko pun menjalani pelatihan untuk fisiknya di Pusat Rehabilitasi Yakkum yang terletak di Jalan Kaliurang Km 13,5, Besi, Yogyakarta. Butuh waktu lama untuk kembali mendapat semangat, memanfaatkan kedua lengannya dengan maksimal sehingga bisa beraktivitas seperti manusia lainnya.

“Dulu saya klien di Yakkum. Karena memang kondisi saya seperti ini bukan dari kecil tapi kecelakaan. Saya beradaptasi dengan kondisi yang ada. Saya ikut program-program di Yakkum seperti dibantu psikolog, ikut beragam pendidikan, belajar menggunakan anggota tubuh yang ada, fisioterapi untuk menguatkan kaki dan lengan,” jelasnya.

Pria asal Pekalongan itu mengatakan, ia sudah berada di Yakkum cukup lama. 11 tahun berada di Yogyakarta untuk menjalani rehabilitasi hingga akhirnya bisa bekerja dan berkeluarga.

“Di Yakkum sudah cukup lama kurang lebih 11 tahun,” ujar Eko yang murah senyum itu.

Kelemahan fisik bukan jadi alasan Eko untuk tak mau bekerja dan menjalankan aktivitas seperti manusia pada umumnya. Pria kelahiran 1985 itu, belakangan sibuk membagi waktu bekerja dan belajar mengolah kopi. Eko mulai belajar di sebuah kafe yang masih berada satu komplek dengan Yakkum. Kafe yang dibuka pada 2017 itu bernama Cupable. Kafe ini tak hanya sekadar menyediakan kopi, jus, dan aneka camilan untuk para pengunjung tetapi juga mengadakan kesempatan pelatihan pekerjaan bagi penyandang disabilitas.

“Awalnya suka ngopi di sini. Akhirnya ikut sama teman-teman barista belajar. Eh gimana to kok kelihatannya unik. Mulailah mengenal yang namanya kopi,” ujarnya.

Dengan wajah semringah, ia mengatakan saat itu pimpinan dari Yakkum kenal dengan pemilik Cupable. Mereka pun berbincang dan memunculkan ide untuk memberikan ruang dan wadah bagi teman-teman disabilitas supaya belajar membuat kopi. Menariknya, Eko menjadi penyandang disabilitas pertama yang berani belajar mengolah biji kopi menjadi segelas minuman nikmat di Cupable.

“Saya termasuk disabilitas pertama yang menjajal jadi barista di Cupable.”

Ditanya tentang kesulitan dan tantangan, Eko pun menanggapinya dengan penuh semangat. Menurutnya, banyak kesulitan untuk bisa mengolah dari biji kopi sampai menjadi segelas kopi yang siap diminum. Padahal, mengolah kopi itu membutuhkan keahlian bahkan banyak menggerakkan tangan.

“Kalau kayak barista gini kan untuk aktivitasnya kebanyakan ada pada tangan,” ucap Eko.

Bagi sebagian orang yang melihat cara membuat kopi saja terkesan ribet dan sulit. Tapi tidak bagi Eko. Meski mengaku masih terus belajar, Eko tak ragu mengaku masih dibantu oleh teman barista di Cupable. Ia mengakui awalnya bertemu dengan banyak orang apalagi di café dipenuhi dengan perasaan grogi. Sempat terbesit kekhawatiran dan pertanyaan dalam dirinya “apa aku bisa?”

“Ya dengan semangat, dukungan, motivasi dari temen-temen yang ada akhirnya ya saya pelan-pelan belajar. Akhirnya saya bisa. meksi awal-awalnya dibantu sama temen-temen barista,” imbuhnya.

Selain menjadi barista di Cupable, Eko juga menjadi resepsionis di kantor Pusat Rehabilitasi Yakkum.

“Saya mencoba memberanikan diri, pelan-pelan dari satu customer ke customer berikutnya. Tak lupa dorongan teman-teman di Cupable. Akhirnya dengan sering berlatih saya pelan-pelan bisa mengatasi ketakutan itu,” katanya.

Eko berkata kesulitan itu ada. Membuat segelas kopi itu membutuh teknik dan skill. Ada mesin pembuat kopi yang harus dioperasikan. Selain mengolah kopi, ia juga dituntut bisa mencuci gelas, piring, sampai membersihkan meja.

“Kalau saya sudah bisa, saya juga nantinya berbagi ilmu sama teman-teman disabilitas lain. Mereka juga punya semangat, motivasi untuk menjalani hidup meski punya keterbatasan fisik tetapi mereka tetep bisa optimis. Mereka bisa berlatih menata masa depan hidup mereka. Misalnya bisa belajar kopi, berkarya dan menjadi berkat untuk orang lainlah,” pesan Eko.

Ia menambahkan uang hasil penjualan kopi di Cupable juga sebagian didonasikan untuk membantu teman-teman disabilitas di Pusat Rehabilitasi Yakkum. Eko bersyukur masih diberi kesempatan hidup dan berkarya meski dengan keterbatasan. Dari kekhawatiran jadi semakin percaya diri bertemu dan melayani banyak orang.

“Kalau saya sih motivasinya selagi Tuhan masih memberikan hidup kita msih bisa diberi kesehatan masih bisa beraktivitas ya jangan terus ‘nglokro’ putus asa,” tutupnya.

#Aloysia Mita

 

 

Share This