Pada Minggu sore (08/07) bertempat di sebuah pendapa di area pondok pesantren Assalafiyah sejumlah pemuda pemudi lintas iman dari berbagai latar belakang komunitas yang berasal dari Sleman dan sekitarnya berkumpul. Sore itu mereka mengadakan kegiatan diskusi. Diskusi tersebut seputar sejarah dan perkembangan agama Islam. Wildan Habibi dan Mishabul Munir adalah dua santri ponpes yang menjadi narasumber.

Di acara diskusi tersebut, banyak pertanyaan yang diajukan oleh peserta seputar praktik, sejumlah istilah yang lazim di kalangan Islam, namun kurang familier maknanya di kalangan nonmuslim. Sebagian besar peserta acara adalah perwakilan dari OMK (Orang Muda Katolik).

“Siapa yang disebut ulama? Adakah perbedaan dengan haji, syekh, ustadz?”

Kata ulama dalam bahasa Arab berasal dari bentuk tunggal alim yang berarti orang yang berilmu. Secara umum, ulama sejati adalah orang-orang yang mendedikasikan ilmunya untuk kehidupan yang lebih baik dengan dilandaskan kepasrahan dan pengabdian kepada Allah,” ujar Mishabul Munir.

Wildan Habibi menambahkan, “Haji sebutan untuk orang yang telah melaksanakan haji. Di Indonesia, haji menjadi gelar sosial. Ustadz orang yang menjadi wadah ilmu.”

“Kenapa orang Islam saat meninggal dikafani dan dipocong?”

“Apakah semua orang nonmuslim disebut kafir?”

“Kafir sendiri berarti menentang,” jawab Mishabul Munir. “Jadi, kalau saya sedang beribadah, lalu diusik, maka orang yang mengusik tersebut seorang kafir.”

Diskusi tersebut menjadi wadah untuk saling mengenal juga tahu tentang beragam hal mengenai Islam yang mungkin selama ini hanya dilihat via media. Wadah untuk saling berdialog. Wildan Habibi senang menjadi bagian diskusi lintas iman seperti ini. Dia berharap makin banyak kegiatan seperti ini untuk para pemuda. Menurutnya, masalah-masalah di masyarakat yang berkaitan dengan agama kebanyakan terjadi karena kurangnya dialog.

Acara diskusi yang dilanjutkan dengan keliling ke pondok pesantren, menilik sekilas kehidupan para santri ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya, yaitu kunjungan ke wihara Karangjati dan diskusi bersama Forum Jogja Damai.  Kegiatan ini adalah bagian dari Srawung Kekinian Rukun Agawe Santosa.

Agatha, salah satu peserta, mengungkapkan, “Awalnya aku kira cuma diskusi biasa, oh ternyata ada kunjungan ke pondok pesantren. Jadi bisa tahu soal pondok pesantren dan apa saja kegiatan di dalamnya.”

Selain para peserta Srawung, hadir juga Romo Johanes Wegig Hari Nugroho, Pr, selaku moderator OMK Rayon Sleman, perwakilan dari komunitas lintas iman seperti Srikandi Lintas Iman dan Gusdurian. Acara tersebut diakhiri dengan penanaman bibit pohon.

Share This