Ketika saya bertugas di paroki Klaten, saya terkesima dengan bangunan gereja paroki Klaten. Romo Mangun telah menghadiahkan gereja yang luar biasa bagi umat Klaten. Gereja yang punya pamor. Salah satu pamor kuatnya adalah keterbukaan. Berani srawung dengan siapa saja. Beginilah ia menempatkan gereja Klaten:

Sebetulnya gereja Maria Assumpta di Klaten ini tidak punya muka, Front, fasade atau belakang. Ke segala arah gereja memperlihatkan wajahnya. Sesuai dengan panggilan arasinya, baik menghadap ke jalan raya, atau ke lapangan SD, ke kampung ataupun ke pastoran. Konsep dasarnya memang gereja di tengah kampung, di tengah masyarakat. Menghadap ke diri gereja intern sendiri (pastoran), ke masyarakat luas yang dinamis (jalan raya), teristimewa ke anak-anak dan generasi muda penerus (SD Kanisius), dan ke tetangga lingkungan (selatan ke kampung).

 

Gereja memang tidak boleh memisahkan dari kehidupan berikut orangnya. Dengan konsep Gereja di tengah kampung, romo Mangun ingin mengajak umat Klaten untuk srawung dengan warga kampung yang beragam itu. Pula dengan masyarakat luas yang dinamis. Juga dengan generasi penerus yang akan melanjutkan estafet kehidupan.

Srawung tentunya tidak hanya dimaknai hanya sebatas kenal nama, tahu nomer hp-nya, tahu alamat rumahnya, tahu makanan kesukaanya, dan tahu-tahu yang lain. Ini masih sangat permukaan. Srawung juga tidak hanya dimaknai hanya sebatas kalau kita cocok, kalau kita se-agama, kalau kita se-umur, kalau kita se-hobi, kalau kita se-paroki,kalau kita se-suku, dan se- se- yang lain. Ini namanya pengkotak-kotakan. Memasang batas tinggi yang tak tertembus. Srawung berarti mau bergaul dengan siapapun. Srawung itu menghadirkan kehidupan yang lebih manusiawi. Kehidupan yang memandang orang lain sebagai pribadi yang berharga, bukan karena leluhurnya, sukunya, agamanya, kebangsaannya, kedudukannya, hubungan keluarganya, kepandaiannya, pekerjaannya, dan sebagainya. Solidaritas yang dibangun adalah solidaritas yang tidak pernah mengesampingkan siapa pun. Itulah yang dibuat dan diajarkan Yesus. Setiap orang perlu dicintai karena mereka adalah pribadi. Inilah ketelanjangan, yang memungkinkan orang srawung dengan kemerdekaan.

Srawung juga mengajak orang untuk berbelaskasih. Dasar dari solidaritas itu adalah belas kasih (perasaan yang menyembul dari inti pribadi ketika melihat kebutuhan orang lain, dan mau tidak mau harus berbuat). Belajarlah dari Yesus sendiri. Yang  menjadikan Yesus istimewa ialah belas kasih-Nya yang tidak terbatas terhadap orang miskin dan tertindas.

“Tergeraklah hatinya oleh belaskasihan kepada mereka dan ia menyembuhkan mereka” (Mat 14:14), “Tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat 9:36, Mrk 6: 34). Ia tergerak oleh belaskasihan melihat air mata seorang janda di nain dan berkata “Jangan menangis” (Luk 7:13). Jelas dikatakan bahwa hatinya tergerak oleh belas kasihan terhadap orang kusta (Mrk 1:14), terhadap dua orang buta (Mat 20:34) dan terhadap orang yang tidak mempunyai apa pun untuk dimakan (Mrk 8:2).

Belas kasih itu nampak pula pada diri bapa yang menerima anak yang hilang (Luk 15:20). Orang Samaria yang baik tampil istimewa juga karena belas kasih yang ditujukkan kepada orang yang dirampok dan ditinggalkan setengah mati di pinggir jalan (Luk 10:33). Perumpamaan mengenai orang Samaria yang baik (Lukas 10:29-37) merupakan jawaban terhadap pertayaan: “Siapakah sesamaku?”. Jawabannya bukan setiap orang atau semua orang, meskupun jawaban itu juga tidak salah. Jawabannya adalah suatu perumpamaan yang dikisahkan sedemikian rupa sehingga kita digiring untuk mengidentifikasikan diri kita secara emosional dengan seseorang yang sedang mengalami musibah dirampok. Kita merasakan kekecewaannya, ketika orang-orang yang seharusnya hidup dalam solidaritas dengan dia (seorang imam dan lewi), berjalan terus di seberang jalan. Kita ikut gembira ketika seorang Samaria (seorang musuh) tergerak hatinya oleh belaskasihan dan meruntuhkan tembok-tembok pemisah solidaritas kelompok untuk menolong dia yang membutuhkan.

Kalau kita membiarkan belas kasih Yesus, perumpamaan-perumpamaan itu menggerakkan kita (memunculkan perasaan-perasaaan mendalam yang ada dalam diri kita), kita tidak perlu lagi bertanya siapakah sesamaku atau apa artinya kasih. Kita akan melakukan yang sama, meski dalam hambatan apa pun. Hanya belas kasih yang dapat mengajarkan kepada orang arti solidaritas dengan sesama.

Inilah srawung ala Kerajaan Allah.

(Heribertus Budi Purwantoro, Pr)

Share This