Sejak Konsili Vatikan II, Gereja menampilkan diri bukan lagi sebagai sesosok Raja Hakim Agung, tetapi Gereja sebagai Saudara dan Sahabat yang merangkul umatnya sendiri, beserta umat agama lain, pun dunia. Bukan lagi sebagai Ratu penguasa Imperial, akan tetapi sebagai Ibu pembawa damai dan kasih sayang. Itu semua menandai revolusi intern dalam sikap dasar Gereja Katolik serta arah karya-karyanya.

Gereja terbuka pada sikap ekumenik, merangkul dalam suasana dialog semua agama dan kepercayaan, bahkan merangkul kaum ateis atau marxis. Terhadap kaum ateis atau komunis marxis, Gereja ingin melihat mereka sebagai manusia yang juga harus disayangi dan diajak berdialog. Apalagi sahabat-sahabat sekepercayaan kepada Yesus, kaum Protestan yang tepat disebut kaum Reformasi, orang beragama Yahudi dan Islam yang sama-sama berakar pada Nabi Ibrahim dan Musa. Namun juga terhadap kawan-kawan Hindu, Budha dan kepercayaan-kepercayaan lain yang banyak itu. Sebab, betapapun berlainan jalan dan cara yang mereka tempuh dari apa yang dikerjakan oleh kaum Katolik, namun mereka tetap adalah manusia yang sama-sama punya kerinduan dan dambaan yang sama, mencari Tuhan yang Maha Agung sekaligus Maha Hadir di dalam diri kita yang paling intim, merindukan dunia yang berkeadilan sosial, kehidupan antar manusia dan bangsa yang tidak saling membunuh dan menjegal tetapi saling menolong di dalam sikap saling memahami, menghargai dan berbelaskasih, yang kuat dalam penegakan nilai-nilai moral, yang mendambakan kemerdekaan sejati dan tidak terbelenggu oleh segala bentuk eksploitasi, dalam suatu tata-dunia yang adil dan penuh perdamaian. Itu semua adalah kepentingan dan keprihatinan maha raya yang dihadapi oleh semua bangsa di seluruh dunia, dan kepentingan itu hanya dapat diperjuangkan apabila bangsa bersatu dan berpadu saling berdialog, mencari bersama penyelesaian sosial secara optimal, dan saling melengkapi dalam usaha besar untuk menyelamatkan hari depan bangsa manusia di planet yang satu ini.

Gereja Katolik tidak lagi memasang garis pemisah antara umat beragama Katolik dan umat beragama lain atau umat beragama yang lain dengan umat beragama yang lain lagi. Akan tetapi bidang pemisahnya (apabila ada) antara mereka yang pro Kerajaan Allah dan anti Kerajaan Allah, di semua agama dan mana pun. Gereja harus bekerjasama dengan umat Gereja-gereja lain serta dengan umat penganut agama-agama dan keyakinan lain untuk merasukkan nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam masyarakat. Jemaat Kristiani harus hidup dalam persekutuan sebagai mitra sejati bersama semua orang, sementara mereka berdoa, bekerja, berjuang dan menderita demi hidup manusiawi yang lebih baik.

Sejalan dengan arus besar itu, Gereja Keuskupan Agung Semarang sendiri menegaskan diri sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid Yesus Kristus yang  mewartakan Kerajaan Allah. Hal itu ditempuh dengan usaha mewujudkan peradaban kasih yang harapanya terwujud dalam masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Usaha ini dilakukan bersama-sama dengan semua orang.

Senada dengan hal itu, romo Mangunwijaya pernah menegaskan bahwa umat yang beragama diharapkan agar selalu pro Kerajaan Allah. Akan tetapi secara faktual, mereka yang mengaku beragama tidak jarang justru bersikap anti Kerajaan Allah. Oleh karena itu, rasanya tidak cukuplah orang hanya beragama tetapi menjadi beriman, bukan to have a religion tetapi  being religious. Manusia agamawan harus sampai menjadi manusia yang religius, yang beriman, bertaqwa, berpengharapan, bercinta kasih, saling menolong, saling solider, saling menjaga perdamaian di tengah dialektika konflik, saling melengkapi dan saling mengajak ke suatu dunia yang lebih baik, lebih akrab dan lebih menjaga kelestarian alam maupun umat manusia yang terus semakin bermekar dan maju, lebih memanusiakan manusia. Sebagai pribadi yang tidak hanya mempunyai agama, akan tetapi faktual beriman dan tagwa, religius. Yang seperti inilah yang jauh lebih penting dan menentukan segala-galanya, yang justru mampu menghadirkan Kerajaan Allah saat ini, di manapun dan kepada siapa pun.

Dalam hidupnya, romo Mangunwijaya adalah sesosok manusia religius Indonesia. Romo  Mangun bukan hanya sastrawan, budayawan dan arsitek, ia juga romo “pemberontak”, yang berani puasa dan bermatiraga untuk membela penduduk kali code, yang pondoknya hendak di gusur. Ia juga tokoh yang membela hak-hak rakyat di Kedung ombo. Aktivitas sosialnya yang nyata membuat ia menjadi legitim jika bicara tentang agama yang terbuka, dan melayani kebutuhan sesama, hingga ia juga diterima di mana-mana sebagai tokoh yang memperjuangkan dan menghormati pluralisme agama. Lalu, sekarang, siapa lagi penerusnya? Semoga kita.

 

Heribertus Budi Purwantoro, pr

Share This